PERS dan Kajian Historis

Sejarah Perkembangan Pers


BEBERAPA hari setelah teks proklamasi dibacakan Bung Karno, dari kota sampai ke pelosok telah terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang, termasuk pers. Yang direbut terutama adalah peralatan percetakan. Perebutan kekuasan semacam ini telah terjadi di perusahaan koran milik Jepang yakni Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung) dan Sinar Baroe (Semarang). Dan pada tanggal 19 Agustus 2605 koran-koran tersebut telah terbit dengan mengutamakan berita sekitar Indonesia Merdeka. Dalam koran-koran Siaran Istimewa itu telah dimuat secara mencolok teks proklamasi. Kemudian beberapa berita penting seperti "Maklumat Kepada Seluruh Rakyat Indonesia", "Republik Indonesia Sudah Berdiri", "Pernyataan Indonesia Merdeka", "Kata Pembukaan Undang-Undang Dasar", dan lagu "Indonesia Raya".
Di bulan September sampai akhir tahun 1945, kondisi pers RI semakin kuat, yang ditandai oleh mulai beredarnya Soeara Merdeka (Bandung) dan Berita Indonesia (Jakarta), Merdeka, Independent, Indonesian News Bulletin, Warta Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia. Di masa itulah koran dipakai alat untuk mempropagandakan kemerdekaan Indonesia. Sekalipun masih mendapat ancaman dari tentara Jepang, namun dengan penuh keberanian mereka tetap menjalankan tugasnya. Dalam masa klas pertama di tahun 1947, pers kita terbagi dua. Golongan pertama tetap bertugas di kota yang diduduki Belanda. Dan golongan kedua telah mengungsi ke pedalaman yang dikuasai RI. Sekalipun aktif di wilayah musuh, yang selalu dibayangi ancaman pemberedelan dan bersaing dengan koran Belanda, golongan pertama tetap menerbitkan koran yang berhaluan Republikein. Yang terkenal di masa itu antara lain Merdeka, Waspada, dan Mimbar Umum. Demikian pula yang bergerilya ke pedalaman, dengan peralatan dan bahan seadanya, koran mereka senantiasa menjaga agar jiwa revolusi tetap menyala. Di masa itu telah beredar koran kaum gerilya, yakni Suara Rakjat, Api Rakjat, Patriot, Penghela Rakjat, dan Menara. Koran-koran ini dicetak di atas kertas merang atau stensil dengan perwajahan yang sangat sederhana.

Pemberedelan pertama
Kondisi pers kita sesudah proklamasi, memang jauh berbeda dibanding di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Di masa itu orang enggan membaca koran, lantaran beritanya melulu untuk kepentingan penguasa. Sedang pada masa kemerdekaan, koran apa saja selalu menjadi rebutan masyarakat. Sehari setelah beberapa koran mengabarkan berita tentang pembacaan teks proklamasi, maka hari-hari berikutnya masyarakat mulai memburunya. Mereka tampaknya tidak mau ketinggalan barang seharipun dalam mengikuti berita perkembangan negaranya yang baru merdeka itu. Minat baca semakin meningkat dan orang mulai sadar akan kebutuhannya terhadap media massa. Suasana seperti ini tentunya berdampak positif bagi para pengelola media masa di masa itu. Usaha penerbitan koran pun mulai marak kembali, yang konon diramaikan oleh irama gemercaknya suara alat cetak intertype atau mesin roneo. Sementara itu para kuli tinta yang sibuk kian kemari memburu berita, semakin banyak jumlahnya. Untuk menertibkan dan mempersatukan mereka, pada tahun 1946 atas inisiatif para wartawan telah dilangsungkan kongres di Solo. Dalam kongres itu telah dibentuk persatuan wartawan dan Mr. Sumanang, ditunjuk sebagai ketuanya.

Tercatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah pers di masa revolusi yakni di tahun yang sama telah didirikan Sari Pers di Jakarta oleh Pak Sastro dan kantor berita Antara dibuka kembali, setelah selama tiga tahun dibekukan Jepang. Kantor Sari Pers setiap hari mencetak ratusan koran stensilan yang memuat berbagai berita penting dari seluruh tanah air.

Mengikuti berita surat kabar di masa itu, memang mengasyikkan dan sekaligus mendebarkan. Dari hari ke hari beritanya silih berganti, dari pertempuran dan perundingan, sampai pembangunan serta kabar berita yang penuh suka dan duka. Seperti berita di tahun 1945. Indonesia Merdeka telah disambut luapan gembira, namun di bulan November muncul berita duka, yakni tentara Inggris telah membantai ribuan rakyat dan para pejuang kita serta membumihanguskan kota Surabaya. Di tahun 1946 rakyat kita telah memperingati hari proklamasi dengan sangat meriah sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 17 Februari, ketika Indonesia Merdeka baru berumur setengah tahun dan tanggal 17 Agustus. Tahun 1946 ditutup dengan munculnya berita musibah yang memenuhi halaman-halaman koran, yakni pembunuhan 40.000 rakyat Sulsel oleh Gerombolan Westerling pada tanggal 11 Desember. Tindakan kejam ini dilakukan pihak Belanda untuk melancarkan jalan menuju terbentuknya negara boneka Indonesia Timur.

Berita yang menggembirakan tahun 1948 adalah diselenggarakannya Pesta Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo secara meriah pada tanggal 9 September. Namun berita-berita PON itu tiba-tiba sirna oleh terjadinya Peristiwa Madiun pada tanggal 18 September di kota yang sama. Memasuki tahun 1948 situasi dan kondisi negara RI memang mulai diwarnai oleh suasana perpecahan. Di masa itu semakin terasa ada dua golongan yang saling bertentangan yakni golongan kanan (Front Nasional) dan golongan ekstrem kiri (komunis) yang disebut FDR (Front Demokrasi Rakyat). Puncak konflik ini ditandai oleh meletusnya pemberontakan Peristiwa Madiun yang didalangi oleh PKI Muso. Peristiwa ini sempat mengguncang pemerintah. Betapa tidak, sementara rakyat kita sedang sibuk menghadapi agresi Belanda, tiba-tiba PKI menusuk dari belakang. Pidato Presiden Soekarno yang berbunyi: "Pilih Soekarno-Hatta atau Muso dengan PKI-nya" sempat menjadi berita utama dalam setiap koran. Di masa penuh konflik inilah untuk pertama kalinya terjadi pemberedelan koran dalam sejarah pers RI. Tercatat beberapa koran dari pihak FDR seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota telah dibreidel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu fihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengeritik pihaknya.

Hubungan pemerintah dan pers
Pada tahun 1946, pihak pemerintah mulai merintis hubungan dengan pers. Di masa itu telah disusun peraturan yang tercantum dalam Dewan Pertahanan Negara Nomor 11 Tahun 1946 yang mengatur soal percetakan, pengumuman, dan penerbitan. Kemudian diadakan juga beberapa perubahan aturan yang tercantum dalam Wetboek van Strafrecht (UU bikinan Belanda), seperti drukpersreglement tahun 1856, persbreidel ordonnantie 1931 yang mengatur tentang kejahatan dari pers, penghinaan, hasutan, pemberitaan bohong dan sebagainya. Namun upaya ini pelaksanaannya tertunda karena invasi dari pihak Belanda. Barulah setelah Indonesia memperoleh kedaulatannya di tahun 1949, pembenahan dalam bidang pers dilanjutkan kembali. Di saat itu telah terjadi peristiwa bersatunya kembali golongan insan pers yang bergerak di kota yang dikuasai Belanda dengan golongan yang bergerak di daerah gerilya. Hubungan itu meliputi soal perundang-undangan, kebijaksanaan pemerintah terhadap kepentingan pers dalam hal aspek sosial ekonomi maupun aspek politisnya.
Dalam UUD pasal 19 contohnya, telah dicantumkan kalimat, setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. Pelaksanaan UUD pasal 19 tersebut telah diusulkan dalam sidang Komite Nasional Pusat Pleno VI Yogya tanggal 7 Desember 1949 yang intinya, Pemerintah RI agar memperjuangkan pelaksanaan kebebasan pers yang mencakup memberi perlindungan kepada pers nasional, memberi fasilitas yang dibutuhkan perusahaan surat kabar, dan mengakui kantor berita Antara sebagai kantor berita nasional yang patut memperoleh fasilitas dan perlindungan. 

Usulan di atas kemudian dijawab. Pemerintah RI sudah mulai merencanakan segala peraturan mengenai pers dan berupaya sekerasnya untuk melaksanakan hak asasi demokrasi. Hubungan antara pemerintah dan pers lebih dipererat dengan cara membentuk Panitia Pers pada tanggal 15 Maret 1950, penambahan halaman koran, persediaan kertas dan bahan-bahan yang diperlukan, tanpa ada ikatan apapun yang mengurangi kemerdekaan pers. Untuk meningkatkan nilai dan mutu jurnalistik, maka para wartawan diberi kesempatan untuk memperdalam ilmunya. Dan diupayakan pula agar kedudukan kantor berita Antara lebih terasa sebagai mitra dari para pengelola surat kabar.

Upaya di atas telah memungkinkan terciptanya iklim pers yang tertib dan menguntungkan semua pihak. Jumlah perusahaan koran pun dari tahun ke tahun semakin meningkat. Buktinya dalam kurun waktu empat tahun sesudah 1949, jumlah surat kabar berbahasa Indonesia, Belanda, dan Cina naik, dari 70 menjadi 101 buah. Sekalipun demikian bukan berarti mutu jurnalistiknya ikut meningkat. Untuk itu, Ruslan Abdulgani dalam tulisannya "Pers Nasional dan Funksi Sosialnya" telah menulis sebagai berikut, "Mempertinggi mutu journalistiek pada umumnja harus diartikan mempertinggi kwaliteit apa jang ditulis: hal ini dapat ditjapai bila wartawan berkesempatan tjukup memperlengkapi dirinja dengan pengetahuan tentang keadaan jang hendak ditulis, dan pelbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu politik, sociologie, ekomomi, psychologie, sedjarah dan ketatanegaraan".


PERS MAHASISWA DITINJAU DARI KAJIAN HISTORIS

Jika kita percaya terhadap ‘mahluk’ yang bernama sejarah, kemudiaan kita claim sebagai gerak dialektis antara kondisi subyektif pelaku dan kondisi obyektif dimana mereka berada, kawan-kawan akan melihat dinamika Gerakan Mahasiswa sepanjang waktu tidak lepas dari pengaruh para aktivis Pers mahasiswa. Karena kita percayai disini, Pers mahasiswa adalah suatu alat perjuangan bagi kaum aktivis gerakan mahasiswa, corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa, dan kita akan melihat hubungan diantara keduannya sangat erat. Supaya lebih jelasnya saya akan mecoba menemani kawan-kawan untuk mencoba melihat sejarah Pers Mahasiswa yang berada “dibelakang” kita.

Pers Mahasiswa Indonesia Jaman Kemerdekaan Jaman Kolonial Belanda (1914-1941)
Pers mahasiswa lahir se-mainstream dengan munculnya gerakan kebangkitan Nasional yang di tulangpunggungi oleh pemuda, pelajar dan mahasiswa. Pers Mahasiswa waktu itu menjadi alat untuk menyebarkan ide-ide perubahan yang menitik beratkan pada kesadaran rakyat akan pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Dalam era ini bermunculan Hindia Putra (1908), Jong Java (1914), Oesaha pemoeda (1923) dan Soeara Indonesia Moeda (1933) yang secara gigih dan konsekuen atas keberpihakannya yang jelas pada perjuangan kemerdekaan. 

Dalam era ini Nugroho NotoSusanto mengungkapkan bahwa Pers Mahasiswa Indonesia sesungguhnya mulai timbul dari zaman kolonial Belanda. Akan tetapi, Pers Mahasiswa dalam kurun waktu ini dipandang kurang terdapat suatu pergerakan Pers mahasiswa yang sedikit banyak profesional. Dan baru sesudah era kemerdekaan Pers Mahasiswa memulai kiprahnya ke arah profesional.

Masa Pergerakan
Setelah adanya pergerakan modern Budi Utomo, surat kabar-surat kabar di Indonesia diterbitkan sebagai salah satu media perjuangan.
Sehingga berdirilah Kantor Berita Nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937.

Jaman Pendudukan Jepang
Dalam era ini, tidak terlalu banyak tercatat kemajuan berarti karena masa ini para mahasiswa dan pemuda sibuk dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan Indonesia. 

Jaman Setelah Kemerdekaan
Pada jaman ini sedikit banyak Pers Mahasiswa mengalami suatu kemajuan artinya peluang untuk membentuk lermbaga-lembaga Pers Mahasiswa semakin terbuka lebar terutama buat para Mahasiswa dan Pemuda.

Jaman Demokrasi Liberal
Dari tahun 1945-1948, belum banyak Pers Mahasiswa yang lahir secara terbuka karena para Mahasiswa dan Pemuda terlibat secara fisik dalam usaha membangun bentuk Republik Indonesia. Penulis mencatat pada era Majalah IDEA yang diterbitkan oleh PMIB yang kemudian berganti PMB pada tahun 1948. Setelah Tahun 1950 barulah Pers Mahasiswa Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Kemudian komunitas Pers Mahasiswa Indonesia mengalami salah satu puncaknya di era ini.

Jumlah Pers Mahasiswa meningkat secara pesat diiringi dengana segala dinamika-dinamika yang ada. Kemudian muncul suatu hasrat dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi redaksional maupun sisi perusahaan. Dan, atas inisiatif Majalah Gama, diadakan konferensi I bagi Pers Mahasiwa Indonesia. Konferensi menghasilkan dua organisasi yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI yang ketuanya T Yacob) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI yang ketuanya adalah Nugroho Notosusanto).

Dalam era ini, opini Pers Mahasiswa dalam hal kematangannya tidak kalah dengan Pers Umum. Bahkan, era in dianggap keemasan Pers Mahasiswa Indonesia yang kemudian mengikuti Konperensi Pers Mahasiswa Asia yang diikuti oleh negara Australia, ceylon, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, New zealand, pakistan dan Philipina. Kemudian Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia mengadakan kerjasama dengan Student Informatin of Japan dan college editors Guild of the Philipphines (perjanjian segi tiga).

Kemudian Tanggal 16-19 Juli 1958 dilaksanakan konperensi Pers Mahasiswa ke II yang menghasilkan peleburan IWMI dan SPMI menjadi IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) karena anggapan perbedaan antara kegiatan perusahaan pers mahasiswa dan dan kegiatan kewartawanan sulit dibedakan dan dipisahkan. 

Jaman Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Dalam sistem politik terpimpin ini, pemerintah melakukan kontrol ketat terhadap kehidupan Pers. Bagi media Pers yang tidak mencantuman MANIPOL USDEK dalam AD/ART (anggaran dasar dan anggaran rumah tannga) nya akan mengalami pemberangusan. Artinya Pers kala itu harus jelas menyuarakan aspirasi partai politik tertentu. 

Setelah pemberlakuan peraturan Presiden Soekarno tentang MANIPOL USDEK, IPMI sebagai lembaga yang Independen mengalami krisis eksistensi karena dalam tubuh IPMI sendiri terdapat kalangan yang menginginkan tetap independen, menyuarakan aspirasi rakyat dan ada yang mengarah ke pola partisan (memihak parpol/kelompok tertentu). Akhinya pada saat itu, banyak Lembaga Pers mahasiswa yang mengalami kemunduran dan kematian, akibat pukulan politik ekonomi ataupun dinamika kebangsaan yang berkembang saaat itu.

Jaman Orde Baru
Setelah peristiwa G.30.S/PKI IPMI sebagai Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia terlibat penuh dalam usaha pelenyapan Demokrasi Terpimpin dan akhirnya melahirkan Aliansi Segitiga (Aktivis Pers Mahasiswa, Militer dan Teknokrat) untuk menghancurkan kondisi yang membelenggu bangsa dalam Outhoritarian. Pada awal era ini, Pers Mahasiswa kembali ke lembaganya yakni IPMI. Lembaga Pers Mahasiswa se Indonesia ini beorientasi jelas memaparkan kejelekan Demokrasi Terpimpin melibatkan diri dalam kegiatan politik dengan menjadi Biro Penerangan dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Di era ini tebit harian KAMI yang terkemuka yaitu Mahasiswa Indonesia (Jabar), Mimbar Demokrasi (Bandung) dan keduanya adalah penebitan resmi IPMI. 

Ternyata kehidupan Liberal yang dijanjikan oleh para “penguasa” sesudah era Demokrasi Terpimpin dirasakan ternyata hanya sementara saja. Dan format baru politik Indonesia di mulai dengan diadakan PEMILU, perlahan namun pasti Orde Baru beralih menjadi otoriter. Dengan dipengaruhi keputusan format baru perpolitikan Indonesia bahwa kegiatan politrik diatur oleh pemerintah dan ditambah kebijaksanaan bagi aktivitas dunia kemahasiswaan harus melakukan back to campus. Hal di atas itulah yang mermbuat IPMI mengalami krisis identitas. Hal ini terlihat ketika Harian KAMI, penerbitan IPMI yang ada di luar kampus terpaksa dilepas dan akhirnya menjadi Pers Umum. Hal ini dikarenakan oleh iklim perpolitikan yang dikembangkan saat itu dan ditopang oleh kebijakan pemerintah yang memaksa anggota IPMI adalah murni mahasiswa yang beraktifitas di dalam kampus. Kemudian adanya kebijaksanaan Pemerintah tentang penyerdehanaan partai Tahun 1975, dilanjutkan dengan disetujuinya keputusan pemerintah oleh sebagian anggota IPMI bahwa Pers Mahasiswa harus kembali ke kampus maka dalam Kongres III pada tahun akhirnya IPMI dipaksa untuk back to campus. Terpaksa kemunduran pun terjadi lagi dalam tubuh IPMI, perlahan-lahan Media-media pers mahasiswa yang ada di luar kampus banyak yang berguguran.

Sejalan dengan new format kondisi perpolitikan indonesia yang mengharuskan Semua Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia harus back to campus dan kemudian direspon kembali oleh IPMI dengan mencoba berbenah diri, kemudian melakukan kongresnya yang ke IV pada bulan Maret 1976 di Medan. Dalam kongres itu, IPMI belum mampu keluar dari permasalahan hidup antara di luar atau di dalam kampus. Akhirnya, IPMI gagal dalam mencari Eksistensinya, tidak menghasilkan AD/ART baru ditambah IPMI banyak ditinggalkan oleh LPM anggota yang memang pada saat itu terlalu enjoy mengurusi urusan di dalam kampus masing-masing sehingga lupa kewajiban organisasi skala nasional yang dulu pernah dibentuk bersama.

Pada sekitar awal tahun 1978, Media Umum banyak yang di breidel sebagai cermin ketakutan penguasa waktu itu dengan institusi pers, sebagai contoh KOMPAS, SINAR HARAPAN, MERDEKA, INDONESIA TIMES dan masih banyak lagi yang lainnya. Akibatnya, “dunia” pers yang kosong diisi oleh Pers Mahasiswa Indonesia tentunya dengan pemberitaan khas sebagai cerminan Pers Mahasiswa yaitu kritis, berani dan keras. Era ini, oplah Surat Kabar Mahasiswa mencapai puncaknya. Namun, Pers Mahasiswa yang dikatakan oleh Daniel Dakidae sebagai cagar alam kebebasan pers akhirnya juga di breidel karena kekritisan dan keberanian menyuarakan kenyataan di masyatrakat. Dilanjutkan dengan kebijaksanaan NKK/BKK yang memaksa kekuatan Pers Mahasiswa untuk masuk dalam kampus, kemudian hampir semua media Pers Mahasiswa Indonesia di “matikan”. Inilah pertama kali dalam sejarah Pers Indonesia semua Pers mahasiswa Indonesia di breidel.

Selain membumihanguskan semua Lembaga pers Mahasiswa, pemerintah masih kurang terima karena masih ada IPMI yang masih bercokol dalam skala nasional. Untuk itu, pemerintah lebih mengoptimalisasi BKSPMI (Badan Kerjasama Pers Mahasiswa Indonesia) yang dibentuk 1969 sebagai tandingan IPMI. Ditambah lagi aksi penguasa yang menghabisi semua Gerakan Mahasiswa Anti Suharto yang nota bene sebagai “Underbow” IPMI Kemudian dilanjutkan peristiwa MALARI (Mala Petaka Limabelas Januari) yang sangat tragis pada tahun 1974 dan diberlakukannya NKK/BKK yang mengurung ruang gerak Aktivis Pers Mahasiswa dalam kampus pada Tahun 1978. Dengan kenyataan diatas Pers Mahasiswa (IPMI) menjadi tidak bebas merefleksikan secara tuntas kenyataan hidup dalam masyarakat kemudian menginjak padam pada menjelang pertengahan Tahun 1982.
Era 90-an.

Menelusuri akar pertumbuhan dan perkembangan gerakan pers mahasiswa di Indonesia terutama kebangkitannya di era 90-an, telah banyak catatan-catatan penting yang ditinggalkan, yang selama ini perlu dikumpulkan kembali dari tempatnya yang “tersembunyi” dan barangkali belum pernah kita tengok kembali, yang memungkinkan dari catatan tersebut tersirat sebuah semangat tentang perjuangan meraih tujuan bersama, yang pernah didengungkan dalam masa-masa. 

Kemunculan Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI) pada dekade 90-an ini di tahun 1992-1993 (1995 pada kongres II-nya, istilah penerbitan digantikan pers), mempunyai makna historis tersendiri dalam upaya pembentukan jaringan gerakan pers mahasiswa di Indonesia. Walau tak dapat dipungkiri, peran dan transformasi format gerakan pers mahasiswa selama berjalannya kinerja organisasi ini seringkali dirasakan menemui kendala dan tantangan yang tidak ringan untuk dihadapi. Selain persoalan secara geografis, dan persoalan dimensi politis berhadapan dengan penguasa (baik birokrasi kampus atau negara), Terlebih pula persoalan terputusnya transformasi visi dan misi PPMI dari generasi sebelumnya, juga secara de facto keberadaan PPMI masih sering dipertanyakan oleh beberapa lembaga Pers Mahasiswa di Indonesia. Dalam lembaran-lembaran catatan kali ini, penulis ingin mencoba menyajikan suatu kerangka awal dalam upaya merekontruksikan kembali keberadaan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia secara kronologis kelahiran dan pertumbuhannya dalam kontalasi gerakan pers mahasiswa di Indonesia.

Bukan Romantisme Belaka
Paska peristiwa MALARI (malapetaka lima belas januari 1974) bisa dikatakan pemerintah mulai melakukan pendekatn represif terhadap setiap aktivitas kritis kampus. Pada kelembagaan mahasiswa, melalui NKK-BKK terjadi strukturisasi. kondisi demikian menyulut aksi-aksi protes mahasiswa sepanjang tahun 1974 – 1978, yang diantaranya juga dilakukan oleh Dewan Mahasiswa. Melalui berbagai pamlet-pamlet, ataupun media mahasiswa yang diterbitkan oleh dema saat itu, kecaman-kecaman, kritik, kontrol terhadap setiap kebijakkan pembangunan di awal orde baru mulai dilancarkan. Namun lewat kebijakkan berikutnya, penguasa orde baru dengan aliansi militer dan sipilnya telah sedemikian rupa contohnya melalui surat yang diturunkan oleh Pangkopkamtib ketika itu (1978), Dema sebagai salah satu kekuatan lembaga mahasiswa saat itu kemudian dibubarkan, menyusul kemudian de-ormasisasi kelembagaan mahasiswa baik ditingkat intra kampus maupu ekstra kampus melalui KNPI-nya, maka praktis aktivitas mahasiswa dibugkam satu-persatu.

Dan di sisi lain pers mahasiswa yang telah lama juga menjadi salah satu alat perjuangan mahasiswa meneriakkan aspirasi dan memainkan peran kontrol sosialnya juga dibungkam. IPMI ( Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia, berdiri tahun 1955) yang menjadi satu-satunya wadah nasional pers mahasiswa Indonesia dan sempat menjadi salahsatu motor gerakan mahasiswa juga secara perlahan mulai dimatikan. Hingga eksistensi organisasi ini akhirnya mulai padam menjelang pertengahan tahun 1982. Praktis beberapa elemen kekuatan mahasiswa yang diantaranya termasuk pers mahasiswa mengalami kelesuan dan kemandegan. 

Di awal era menjelang tahun 90-an, munculnya kelompok studi dan forum -forum diskusi mahasiswa ataupun lembaga swadaya kemasyarakatan (LSM) baik yang didirikan oleh para aktivis mahasiswa ataupun pemuda yang prihatin terhadap kondisi lingkungan, mulai menjamur di berbagai daerah - sebagai sebuah solusi terhadap kebekuan aktivitas kritis kampus ataupun aktivitas peduli lainya. Mahasiswa mulai mendefinsikan kembali peranannya untuk menghayati setiap persoalan-persoalan kemasyarakatan dan fenomena politik yang terus berkembang seiring dengan menguatnya konsolidasi orde baru. 

Demikian pula yang terjadi dalam aktivitas pers mahasiswa. Aktivitas-aktivitas penerbitan dan beberapa forum pelatihan dan pendidikan jurnalistik di tahun 1986-1989 mulai marak diadakan oleh beberapa perguruan tinggi dalam rangka menghidupkan kembali dinamika intelektual kampus. Dari sekian forum-forum pelatihan jurnalistik mahasiswa tersebut, tersirat tentang sebuah keinginan akan sebuah wadah bagi tempat sharing (tukar-menukar pengalaman) para pegiat pers mahasiswa dalam rangka untuk meningkatan mutu penerbitan mahasiswa sendiri ataupun untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pers mahasiswa. Maka mulai tahun 1986, forum-forum pertemuan para pegiat/aktivis pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai marak terjadi. Tak pelak lagi gelombang aspirasi dan akumulasi persoalan yang digagas oleh para aktivis pers mahasiswa mulai muncul dan mewarnai berbaai forum pertemuan aktivis pers mahasiswa. 

Namun ada beberapa hal yang terpenting dari berbagai forum pers mahasiswa tersebut, yang sekiranya dari penelusuran data-data di bawah ini dapat menjadi catatan sebagai sebuah refleksi dan pemahaman lebih lanjut. Tetapi hal ini bukan sekedar ” romantisme belaka” yang hendak kita capai dalam penelusuran sacara historis fase-fase perkembangannya. Peranan pers mahasiswa dalam kancah pembaharuan bidang politik tentunya mempunyai dimensi sosial tersendiri. Yang terkadang terlupakan dalam arah sejarah negeri ini. Guratan visi dan misinya yang mengandung penegasan sikap mahasiswa sebagai salah satu elemen masyarakat di negeri ini, yang secara sosial terdidik dalam lingkungan intelektual kampus, yang diharapkan mampu peka terhadap perkembangan sosial di tubuh masyarakat dan negara. Dan melalui pers mahasiswa, sebagai salah satu media perjuangan mahasiswa menyampaikan suara dan nuraninya, kepekaan sosial mampu ditumbuhkan dan simultan dengan fenomena yang terjadi di negeri ini.

Di awal bagian pengantar disebutkan bahwa mulai tahun 1980- 90an, aktivitas - aktivitas mahasiswa mulai marak dengann ditandai munculnya berbagai kelompok Studi, lembaga swadaya masyarakat ataupun aktivitas-aktivitas lainnya. Begitupun yang terjadi dalam perkembangan pers mahasiswa di tanah air. Maraknya penerbitan mahasiswa mulai muncul di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Semenjak kebekuan IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) di tahun 1982, praktis aktivitas penerbitan mahasiswa tidak banyak muncul. Namun kegiatan-kegiatn off print seperti halnya pelatihan dan pendidikan jurnalistik mahasiswa ataupun diskusi masih bisa dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi. Momentumnya adalah menjelang tahun 1986 aktivitas-aktivitas ini mulai marak dilakukan dengan skala yang lebih luas, mempertemukan pegiat-pegiat pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sebagai sebuah akumulasi persoalan-persoalan yang dibahas dan dipecahkan oleh para pegiat pers mahasiswa yang sering bertemu dalam forum-forum tersebut, tercetus keinginan untuk kembali mengkonsolidasikan potensi kekuatan pers mahasiswa di berbagai daerah dalam mendorong bangkitnya aktivitas pers mahasiswa, serta mendefinisikan dan mengaskn kembali peranan yang harus dipegang pers mahasiswa dalam menghayati persoalan-persoalan yang dihadapi kontekstual dengan fenomena sosial yang berkembang.

Dari berbagai sumber yang sempat dilansir dan disarikan dari beberapa media mahasiswa, tersirat keinginan dari sekian pegiat pers mahasiswa saat itu tentang terbentuknya sebuah wadah di tingkat nasional yang diharapkan dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi pers mahasiswa. Secara kronologis fase-fase konsolidasi pers mahasiswa Indonesia dalam rangka menggalang komitmen dan mendorong upaya jaringan komunikasi dann sosialisasi pers mahasiswa bisa dicermati dari tulisan di bawah ini : 

Dari Pers Mahasiswa Menuju PPMI
Setelah “Vacum” akibat pembredelan sebagai buntut peristiwa Malari, 15 Januari 1974 dan strukturisasi kelembagaan mahasiswa di bergbagi perguruan tinggi melalui NKK/BKK. Pers mahasiswa (persma) pasca 1980-an kembali. Ditandai dengan terbitnya berbagai media mahasiswa misalnya, Balairung - UGM - 1985, Solidaritas Universitas Nasional Jakarta - 1986, Sketsa Universitas Jenderal Soedirman 1988, Pendapa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa 1988, Akademika Universitas Udayana 1983- dan lain-lainya, usaha-usah unutk menata kembali jaringan komunikasi dann penggalangan komitmenn pers mahasiswa mulai dirintis.  

Usaha-usaha itu meliputi :
Pendidikan Pers Mahasiswa Se Indonesia : tanggal 27 - 29 Agustus 1987 diselenggarakan oleh majalah Balairung, tercetus ide untuk kembali mewujudkan wadah pers mahasiswa. Juga terbentuk poros Yogya - Jakarta sebagai koordinator menuju kongres yang dimandatkan kepada Rizal Pahlevi Nasution (Universitas Moestopa) Abdulhamid Dipopramono (UGM) 

Pertemuan dengan mantan aktivis IPMI/Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (Diantaranya Adi Sasono, Makmur Makka, Wikrama Abidin, Ina Mariani, Masmiar Mangiang, Razak Manan) tanggal 19-22 September 1987 di Jakarta. Hasil dari pertemuann ini dibentuk panitia ad-hoc konsolidasi pers mahasiswa yang terdiri dari : Rizal Pahlevi Nasution, Imran Zein Rollas, M.Imam Aziz, dan Abdulhamid Dipopramono. Disepakati untuk melakukan sosialisasi ide kelembagaan pers mahasiswa tingkat nasional. 

Sarasehan Pengelola Pers Mahasiswa Indonesia di Kaliurang - Yogyakarta tanggal 11 - 13 Oktober 1987 oleh lembaga pers mahasiswa Universitas Nasional.
Pekan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa Nasional II di Jakarta, tanggal 17 - 27 Oktober 1988 oleh lembaga pers mahasiswa Universitas Nasional
Sarasehan Pers Mahasiswa Nasional di Bandar Lampung tanggal 26 - 27 Maret 1987 diselenggarakan oleh SKM Teknokra Universitas Lampung.
Orientasi Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa di Jakarta tanggal 21 - 28 Mei 1988 oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Sarasehan Aktivis Pers Mahasiswa IAIN se-Indonesia di Yogyakarta tanggal 11 - 12 April 1988 oleh IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Puwokerto Informal Meeting di Purwokerto, tanggal 6 - 7 Agustus 1988 oleh SKM Sketsa Universitas Jenderal Soedirman.
Pertemuan dengan pimpinan IPMI pusat di Jakarta, 10 Agustus 1988 oleh tim kerja persiapan kongres.
Latihan Ketrampilan Pers Mahasiswa tingkat Pembina se-Indonesia di Yogyakarta, tanggal 28 Agustus - 1 September 1988. 

Panel diskusi Sarasehan Pers Mahasiswa Indonesia di Purwokerto, 19 - 22 September 1988 di Universitas Jenderal Soedirman (disebut : Pra kongres IPMI VI). Hasil penting dari sarasehan ini berupa DEKLARASI BATU RADEN, yang diantaranya ditandatangani oleh 18 wakil aktivis pers mahasiswa kota yang hadir. Deklarasi berbunyi : ” Sadar bahwa demokrasi, keadilan dan kebenaran yang hakiki merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang harus selalu diupayakan secara berkesinambungan oleh seluruh komponennya yang bertanggungjawab dan sebagai salah satu komponennya bertanggungjawab dan memperjuangkan cita-cita tersebut secara kritis, konstruktif dan independen. Dengan didorong semangat kebersamaan, dann disorong oleh keinginan luhur untuk melestarikan dan mengembangkan pers mahasiswa di Indonesia, maka seluruh aktivis pers mahasiswa menyatakan perlu dihidupkannya kembali wadah nasioal yang bernama Ikatan Pers Mahasiswa Idonesia (IPMI)”.
 
Pemberedelan pertama
Kondisi pers kita sesudah proklamasi, memang jauh berbeda dibanding di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Di masa itu orang enggan membaca koran, lantaran beritanya melulu untuk kepentingan penguasa. Sedang pada masa kemerdekaan, koran apa saja selalu menjadi rebutan masyarakat. Sehari setelah beberapa koran mengabarkan berita tentang pembacaan teks proklamasi, maka hari-hari berikutnya masyarakat mulai memburunya. Mereka tampaknya tidak mau ketinggalan barang seharipun dalam mengikuti berita perkembangan negaranya yang baru merdeka itu. Minat baca semakin meningkat dan orang mulai sadar akan kebutuhannya terhadap media massa. Suasana seperti ini tentunya berdampak positif bagi para pengelola media masa di masa itu. Usaha penerbitan koran pun mulai marak kembali, yang konon diramaikan oleh irama gemercaknya suara alat cetak intertype atau mesin roneo. Sementara itu para kuli tinta yang sibuk kian kemari memburu berita, semakin banyak jumlahnya. Untuk menertibkan dan mempersatukan mereka, pada tahun 1946 atas inisiatif para wartawan telah dilangsungkan kongres di Solo. Dalam kongres itu telah dibentuk persatuan wartawan dan Mr. Sumanang, ditunjuk sebagai ketuanya.

Tercatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah pers di masa revolusi yakni di tahun yang sama telah didirikan Sari Pers di Jakarta oleh Pak Sastro dan kantor berita Antara dibuka kembali, setelah selama tiga tahun dibekukan Jepang. Kantor Sari Pers setiap hari mencetak ratusan koran stensilan yang memuat berbagai berita penting dari seluruh tanah air.
Mengikuti berita surat kabar di masa itu, memang mengasyikkan dan sekaligus mendebarkan. Dari hari ke hari beritanya silih berganti, dari pertempuran dan perundingan, sampai pembangunan serta kabar berita yang penuh suka dan duka. Seperti berita di tahun 1945. Indonesia Merdeka telah disambut luapan gembira, namun di bulan November muncul berita duka, yakni tentara Inggris telah membantai ribuan rakyat dan para pejuang kita serta membumihanguskan kota Surabaya. Di tahun 1946 rakyat kita telah memperingati hari proklamasi dengan sangat meriah sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 17 Februari, ketika Indonesia Merdeka baru berumur setengah tahun dan tanggal 17 Agustus. Tahun 1946 ditutup dengan munculnya berita musibah yang memenuhi halaman-halaman koran, yakni pembunuhan 40.000 rakyat Sulsel oleh Gerombolan Westerling pada tanggal 11 Desember. Tindakan kejam ini dilakukan pihak Belanda untuk melancarkan jalan menuju terbentuknya negara boneka Indonesia Timur.

Berita yang menggembirakan tahun 1948 adalah diselenggarakannya Pesta Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo secara meriah pada tanggal 9 September. Namun berita-berita PON itu tiba-tiba sirna oleh terjadinya Peristiwa Madiun pada tanggal 18 September di kota yang sama. Memasuki tahun 1948 situasi dan kondisi negara RI memang mulai diwarnai oleh suasana perpecahan. Di masa itu semakin terasa ada dua golongan yang saling bertentangan yakni golongan kanan (Front Nasional) dan golongan ekstrem kiri (komunis) yang disebut FDR (Front Demokrasi Rakyat). Puncak konflik ini ditandai oleh meletusnya pemberontakan Peristiwa Madiun yang didalangi oleh PKI Muso. Peristiwa ini sempat mengguncang pemerintah. Betapa tidak, sementara rakyat kita sedang sibuk menghadapi agresi Belanda, tiba-tiba PKI menusuk dari belakang. Pidato Presiden Soekarno yang berbunyi: "Pilih Soekarno-Hatta atau Muso dengan PKI-nya" sempat menjadi berita utama dalam setiap koran. Di masa penuh konflik inilah untuk pertama kalinya terjadi pemberedelan koran dalam sejarah pers RI. Tercatat beberapa koran dari pihak FDR seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota telah dibreidel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu fihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengeritik pihaknya.

Hubungan pemerintah dan pers
Pada tahun 1946, pihak pemerintah mulai merintis hubungan dengan pers. Di masa itu telah disusun peraturan yang tercantum dalam Dewan Pertahanan Negara Nomor 11 Tahun 1946 yang mengatur soal percetakan, pengumuman, dan penerbitan. Kemudian diadakan juga beberapa perubahan aturan yang tercantum dalam Wetboek van Strafrecht (UU bikinan Belanda), seperti drukpersreglement tahun 1856, persbreidel ordonnantie 1931 yang mengatur tentang kejahatan dari pers, penghinaan, hasutan, pemberitaan bohong dan sebagainya. Namun upaya ini pelaksanaannya tertunda karena invasi dari pihak Belanda. Barulah setelah Indonesia memperoleh kedaulatannya di tahun 1949, pembenahan dalam bidang pers dilanjutkan kembali. Di saat itu telah terjadi peristiwa bersatunya kembali golongan insan pers yang bergerak di kota yang dikuasai Belanda dengan golongan yang bergerak di daerah gerilya. Hubungan itu meliputi soal perundang-undangan, kebijaksanaan pemerintah terhadap kepentingan pers dalam hal aspek sosial ekonomi maupun aspek politisnya.

Dalam UUD pasal 19 contohnya, telah dicantumkan kalimat, setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. Pelaksanaan UUD pasal 19 tersebut telah diusulkan dalam sidang Komite Nasional Pusat Pleno VI Yogya tanggal 7 Desember 1949 yang intinya, Pemerintah RI agar memperjuangkan pelaksanaan kebebasan pers yang mencakup memberi perlindungan kepada pers nasional, memberi fasilitas yang dibutuhkan perusahaan surat kabar, dan mengakui kantor berita Antara sebagai kantor berita nasional yang patut memperoleh fasilitas dan perlindungan. 

Usulan di atas kemudian dijawab. Pemerintah RI sudah mulai merencanakan segala peraturan mengenai pers dan berupaya sekerasnya untuk melaksanakan hak asasi demokrasi. Hubungan antara pemerintah dan pers lebih dipererat dengan cara membentuk Panitia Pers pada tanggal 15 Maret 1950, penambahan halaman koran, persediaan kertas dan bahan-bahan yang diperlukan, tanpa ada ikatan apapun yang mengurangi kemerdekaan pers. Untuk meningkatkan nilai dan mutu jurnalistik, maka para wartawan diberi kesempatan untuk memperdalam ilmunya. Dan diupayakan pula agar kedudukan kantor berita Antara lebih terasa sebagai mitra dari para pengelola surat kabar.

Upaya di atas telah memungkinkan terciptanya iklim pers yang tertib dan menguntungkan semua pihak. Jumlah perusahaan koran pun dari tahun ke tahun semakin meningkat. Buktinya dalam kurun waktu empat tahun sesudah 1949, jumlah surat kabar berbahasa Indonesia, Belanda, dan Cina naik, dari 70 menjadi 101 buah. Sekalipun demikian bukan berarti mutu jurnalistiknya ikut meningkat. Untuk itu, Ruslan Abdulgani dalam tulisannya "Pers Nasional dan Funksi Sosialnya" telah menulis sebagai berikut, "Mempertinggi mutu journalistiek pada umumnja harus diartikan mempertinggi kwaliteit apa jang ditulis: hal ini dapat ditjapai bila wartawan berkesempatan tjukup memperlengkapi dirinja dengan pengetahuan tentang keadaan jang hendak ditulis, dan pelbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu politik, sociologie, ekomomi, psychologie, sedjarah dan ketatanegaraan".


Bacpacking Girls to Malang

Backpacker. Backpacking.
Kalo kita liat yang kayak di tipi-tipi, jadi backpacker tuh asik deh, bisa jalan-jalan, biaya yang keluar sedikit, tambah lagi bisa masuk tipi!

Sebenernya sih gak mau jadi backpacker beneran karena cukup banyak konsekuensi yang harus dialami seorang backpacker,
*harus mau susah
*harus mau capek
*harus pinter milih tempat
*harus pinter milih kendaraan
*paling penting harus berani

Hal ini bermula waktu bulan November 2010, gue lagi liburan semu di rumah waktu Merapi lagi heboh meletus, gue balik dah ke rumah gue hehe~ (memanfaatkan). Waktu itu gue kecewa beraat, pasalnya malem itu gue lagi siap-siap nanya-nanya ke Vina, lagi mutusin siapa yang mo nelpon mesen travel buat berangkat akhir bulan Januari 2011, pas abis UAS gitu, jengjeeengg gue denger sesuatu yang salah dari tipi di rumah gue, "Gunung Bromo Waspada" what the F**K!!? Demi ape loe?? Saat itu gue desprate dan broken hearted #galau gitu dah.

Gue nungguu nunguuu nungguuu sms dari si Vina, eeh dateng sms dia ngajak ke pulau Sempu, Malang dan dengan innocent gue nanya, "Eh, emangnya Malang ada pantai yaaah??" yaelah neng, tahun kapan lo terkahir liat peta?? kali gitu yah yang dipikirin si Vina :D.

Jadi daah gue dan 3 anak dodol temen kosan gue berangkat backpacker Newbi di belantara backpacking berangkat ke Malang dengan bermodalkan hasil browsing internet tentang Pulau Sempu dan jadwal kereta dan tanya-tanya minamalis dan peta malang dan jawa timur (eh niat banget dah). Masalah nginep, masalah kendaraan, masalah makan....TANYA-TANYA :D

Kita berempat berangkat setelah si Wida cewek chinesse cantik di sebelah kamar gue selese ujian, kita berangkat malem jam 12 di stasiun Tugu Yogyakarta naek Malabar Express tujuan Surabaya turun di Malang stasiun Gadang. Walaupun kereta ekonomi tapi gak separah Kereta Progo kook, lumayan laaah..
Besok paginya hari Jumat kita berempat bener-bener baru pertama kalinya menginjakkan kaki distasiun Gadang, Malang.

Abis tuh kita bersih-bersih bla bla bla biar cantik sekalian sarapan di rumah makan Madura sebelah Stasiun Gadang, alhasil kita dibotekin ternyata makannya abis 20reboo boo'. Sial! Tapi gak papa dah. Lanjuut pesen tiket balik buat hari Minggu tujuan Yogyakarta.

Liat peta lirik sana lirik sini... Eh ada kayak tempat sanggar tari dan kebudayaan gitu, ada TK nya jugak! (MKKB) kita ke sana deh, jalannya ngelewatin Universitas Negeri Malang sama Tugu Malang, jalan kaki, jadi mampir dulu dah di situ kita poto-poto, lanji-lanji berempat. Terus lanjut jalan, di daerah bunderan Tugu ini gue suka suasan jalannya, tepat di sebrang Tugu Malang tuh ada kantor Gubernur Malang, terus ada hotel-hotel yang menurut gue arsitekturnya masih kolonial banget dan masih banyak pohon gede gitu. Hasil dari peta dan tanya-tanya kita berhasil nyampe deh tuh di Taman Kebudayaan.


Dari situ kita pingin bisa langsung lanjut ke Sendang Biru tempat pantai transit kalo mau ke Pulau Sempu. Dari daerah situ kita naek angkot ke Stasiun Gadang, kota Malang, abis tuh turun naek bisa ke daerah Turen, Malang, lanjut naek angkot odong-odong ke Sendang Biru. Kenapa gue bilang odong-odong?? Soalnya tuh angkot sumpah kagak manusiawi banget, angkot yang normalnya isinya cuma 12 orang, jadi diisi 20 orang cobaaa...sampe tempat supirnya didudukin 2 orang, GAHOL abiss dan 2 jam looh kita duduk (yang kayaknya ikan teri masih lebih layak dari itu). Dan yang suka mabok darat, siap-siap aja karena jalannya gak beda jauh dengan jalan ke arah pantai Sundak, Barong, Kerakal, Siung, dkk di Jogja ato jalur lintas Sumatra yang belok-beloknya ampun daah.

Kita ternyata seangkot sama 5 orang cowok anak UGM yang ternyata selama perjalanan tuh kita kata-katain mulu, mereka anak UGM angkatan 2010 keliatannya. Masuk di Sendang biru tuh mesti ijin dulu karena wilayah situ memang wilayah Cagar Alam jadi ijin dulu. Mereka berlima udah bawa peralatan kemah gitu, kita diajakin bareng karena biaya kapanya bisa jadi lebih murahj dan lagi mereka ada satu oarng yang udah pernah nyebrang jadi kita gak usah pake guide lagi. Yaah kita-kita cewek-cewek newbi kagak bawa peralatan kemah dah. Kita mutusin sesuai rencana awal kita mo nyebrangnya besok pagi-pagi buta. Pas malemnya kita nginep dulu di penginepan. Setelah gue pikir-pikir untuuung aja gak jadi nyebrang sore karena malemnya tuh ujan dan dengan berangkatnya jam segitu pasti nyampenya malem deh dan siang aja tuh pulau udah gelap banget gimana malem?

Pas malemnya ada cowok-cowok sekitar 6 orang nginep di sebelah kamar kita cewek-cewek berempat, pas kita makan malem di warung sebelah ketemu dengan mas-mas di kamar sebelah  ada 3 orang kita ketemu dan yang satunya gayanya mirip SM*SH hee~ kita diajakin naek kapal bareng soalnya pas kita berempat dan mereka berenam, kapasitas kapal 10 orang dan yang lebih penting mereka udah ijin ke pulau Sempunya. Sekedar mengingatkan lagi kalo mau nyebrang lagi ke pulau Sempunya itu mesti ijin lagi dan dapet wejangan wejangan gitu dan kalo belum pernah ke sana harus pake Guide. Salah satu dari mereka udah pernah ke pulau itu jadi mereka bilang ama kita ikut mereka aja jadi gak perlu pake guide :D. what a heaven!

Tapi jujur gue bener-bener salut ama mereka yang jadi cowok, jujur aja gue malu jadi cewek karena sumpah jalan di pulau Sempu tuh hutan banget, mau pake sepatu lumpuran, mau copot sepatu banyak karang dan duri, ketemu uler pula. Gue, kita berempet jadi cewek tuh lemah banget, gue malu dibantuin mulu ama tuh cowok-cowok (alhasil gue tekad mo rajin fitnes biar gak nyusahin orang lagi).

Klasifikasi mas-masnya:
1. mas yang kita temuin pertama semalem tuh pake slayer dengan gaya SM*SH, baik, ramah dan ngasih bukti kalo Malang tuh sempit karena 2 hari berikutnya kita ketemu mulu di kota Malang, angkatan 2007.
2. mas yang kedua, udah pernah ke Sempu, ramah juga, dan gue yakin bukan dia yang nyanyi-nyanyi semaleman, angkatan 2009.
2. mas yang ke tiga, mirip ama temen SMP nya Sindy, ngakak aja nerdua kalo inget karena mirip banget, pas jalan cepet banget tapi menyesatkan karena dia selalu milih jalur yang sulit poll, kayaknya 2007/2006, dia bantuin pas nyebrang karang.
3. mas yang ini bukan mas, angkatan 2010, dia menurut gue paliiiiiing baek karena dia agak invisible gitu tapi dia selalu nungguin kita cewek-cewek di belakang, unyuuu.
4. mas yang ini teringat karena makan Happy Tos sambil jalan, gak terlalu deket tapi lumayan baik juga.
5. mas yang satu ini kayaknya paling tua, sumpah dah gue takut ama dia, agak galak dan dia suka nyindir-nyindir gitu.
6. mas yang ini selalu bareng ama mas yang milih jalur sulit itu menyesatkan tapi baik juga.

Balik lagi ke Sempu, kalo gak mau susah, gak mau kukunya patah, gak mau kulitnya gores gue saranin jangan dateng ke sana. Cukup terbayar sih sesampai di pantainya, Subhanallah.. Pasirnya putih, halus, gak banyak kerang dan karangnya, airnya bukan biru, tapi hijau.





Pada awalnya gue bertanya-tanya, letak pantainya yang katanya bagus banget itu kan ada di sisi seberang pulau, alias sebelah selatan yang menghadap langsung ke pantai selatan, terus kenapa gak ke sana nya naik kapal motor aja? Ternyata lebih subhanallah lagi! pantainya yang bagus tuh masih dikelilingi pulau sempunya itu sendiri, jadi air laut dan ombak yang masuk ke situ tuh dari batu karang yang bolong tengahnya yang tepat di sebelah selatan pulau, jadi karena masih dikelilingi pulau ombaknya kecil banget, kita cuma bisa denger debur ombak dari batu karang yang bolong itu :))) Allah Maha Besar deh pokoknya!

Setelah 2 jam main-main di pantai pulau sempu, saatnya kita balik lagi ke penderitaan semula, melalui hampir 3 jam perjalanan merambah hutan berular, berkarang, berlumpur, berduri, semuanya dah. Sesampainya di utara pulau Sempu, hujan datang, I hoped nothing's worse than this, REALLY. Karena hujan kapal motor yang seharusnya ngejemputr kita jadi gak bisa merapat dan kita hujan-hujanan di pantai kecil selama hampir 1 jam. 

Sesampainya di pantai Sendang Biru kita udah teler lemes cepet-cepet mandi, cepet-cepet beres-beres langsung caw karena ada satu angkot yang nungguin kita tapi bukan angkot yang kemaren. Eh, anak-anak UGM yang kemaren seangkot ama kita tuh pada kemana? Pas banget kita nyampe pantai Sempu mereka lagi gulung tenda, kita #cupu telat dateng. =..="

Kita nyampe di kota Malang, turun dari bis gue udah kelaperan tensi gue udah drop, mie ayam terminal diembat juga. Kaki kita berempat udah sakit-sakit, pegel, linu dan segala macam temannya, telapak kaki apalagi jangan ditanya, lecet dan bahkan kakinya Wida bolong, gue lecetnya banyak abis. Kita udah gak sanggup nyari penginepan lagi malem itu akhirnya bagaikan malaikat dateng memberi kebahagiaan, tantenya Sindy yang tinggal di Malang dan gak begitu jauh dari tempat kita turun bis nawarin tinggal di rumahnya. Hurrayyyy! DAEBAK! daaan kita berempat tidur nyenyak malam itu.

Besoknya kita berempat dianterin lewat taman argowisata Malang di daerah Batu, kita main hampir seharian di Jawa Timur Park, terus kita di mobil ngiler pingin ke Park Baby Zoo, Jatim Park 2 dan lain-lain. Namun, waktu udah gak memungkinkan lagi. Kita nyari oleh-oleh keripik buah Malang dan langsung ke Stasiun. Wussh gaul dah ketemu mas youknowmesowell lagi di Stasiun hahahah~ Malang itu sangat sempit, I mean REALLY!

Referensi biaya jalan-jalan ke Pulau Sempu:
Ongkos kereta --- 75.000 (x 2)
Ongkos angkot ke terminal Gadang --- 2.000 (x 2)
Ongkos bis Gadang-Turen --- 5.000 (x 2)
Ongkos Angkot Turen-Sendang Biru --- 10.000 (x 2)
Ongkos Kapal 100.000 (bagi 10 orang)
Penginapan 1 malam --- 100.000 (bagi 4)
(jika) Bayar Guide --- 100.000 (bagi 4)

Nuansa Kali Adem

Jogjakarta dihujani abu vulkanik, pasir vulkanik, dan kerikil vulkanik. Lahar dingin pun membanjiri sungai di Jogjakarta.

Ehm. Tapi bukan soal bencana merapi yang pingin gue bahas :D gue pingin bahas waktu gue jalan sebagai penyusup ke kaliurang.

Ceritanya begini...Anak-anak MIPA jurusan Kimia yaitu Sindy dkk lagi makrab naah tapi sindy dan para sahabatnya itu mo jalan apginya ke Ullen Sentalu nyahahaa gue pingin ikuut yaah gue ikutan deeh.

Buat gue, Ullen Sentalu tuh sebuah museum yang udah pingin banget gue kunjungi daru dulu, cuma baru ada kesempatan dan kesampean waktu itu. Akhirnya dengan kesalahpahaman dan keidiotan gue kontak sama si Indah akhirnya sampelah gue di Ullen Sentalu. Heem kesan pertama cukup unik, bangunannya gak terlalu beasr namun cukup terlihat bahwa ini museum cukup mahal masuknya. Dari luar lebih mendekati penyimpanan barang-barang purbakala sebelum masehi ketimbang penyimpanan barang-barang kebudayaan.

Pagi-pagi gue udah siap. Gue nunggu. Gue nunggu. Mana nih sms dari Sindy ato temennya Sindy ato siapalah yang ngabarin gue harus berangkat jam berapa. Mana? Telpon gak yah? Eh Sindy nelpon temen dia yang harusnya ngehubungin gue udah di gerbang kaliurang, gue bengong. Gue langsung cabut untung aje sepi. 

Muter nyak nyarituh museum jahanam, eeeh tulisannyo bukan Ullen Sentalu yang kayak di websitenya itu tapi "Museum Kebudayaan" oke melenceng memang dan itu hanya permulaan dari hari itu. Satu yang bisa gue nilai dari penampilan luarnya, yang punya ni museum pasti orang beduit (yaiyalaaah) dan satu yang bias gue nilai dari penjaganya BELAGU!

Pertama dateng om-om yang jaga "mbak parkirnya di sebelah sini" *nada nyuruh nan merintah* kesabaran tahap amaan, cuek aja.
Ke dua kita mo ke kafe nya yang ada di belakangnya dulu, lapaaaaaaar baru ke museumnya om-om nista bilang "mbak kalo mo ke kafenya naik aja tapi parkirnya di atas aja" *nada nyuruh* kesabaran masih aman alis mulai menyerngit.
Ke tiga salah satu temennya Sindy asal naik karena ngikutin arah panah kafenya dan kita pikir disitu pintu masuknya om-om najis tuh bilang "mbak-mbak...." *apaan gitu gue lupa tapi yang gue bisa jamin kata-katanya ngeselin* salah satu temennya Sindy nyusulin yang satu lagi dan salah satu dari om-om nista berbaju item-item tuh masuk nyusulin. kesabaran tahap siaga.
Ke empat dua temennya Sindy keluar dengan jidat mengkerut dan ngajak pegi aja dari situ. Udah ngeselin mampus. kesabaran aman, hati kecewa.
Ke lima gue mencoba bertahan dengan pendirian gue secara gue emang udah lama banget pingin ke situ.
gue nyoba sendirian. 
Ke enam gue ke loket sendirian sedangkan yang lain udah pegi.
gue disuruh nunggu jam 9 baru boleh masuk, oke deh tinggal 10 menit lagi.
gue disuruh bayar 20 ribu, oke deh kalo emang keren gak papa.
gue disuruh nunggu sampe ada pengunjung yang dateng lagi karena gak boleh sendirian dan duit gue dibalikin. ANJ**G!!! 
euuuhh kakek-kakek rese banyak mau, penjaga pake mbaju item-item badan gede nan ketus, tuh penjaga apa bodyguard yang kayak di tipi tipi???


Oke gue balik dengen muka nyengitin mereka semua dan ngedumel "DASAR NI MUSEUM PALING BELAGU YANG PERNAH GUE TEMUIN"

Ternyata dewi fortuna masih menyertai gue gue dipertemukan dengan tuh anak-anak cantik hahahaha ngikut daaah gue maain dan makan akhirnya mainnya ke kaliadem jugaaak daaaaahh...




Jelajah Sleman

Ketemu orang tua, jalan-jalan bareng orang tua, belanja bareng orang tua...ehem mungkin ini salah satu yang bakalan dikangenin ama anak-anak kost, kemaren nih sebelum gue berasa keliling pulaiu jawa, sehabis bokap ama nyokap gue belanja batik abis-abisan di jogja *gigit*  besoknya langsung berangkat ke kampung kelahiran bokap gue di ngawi, walopun sebelumnya sebenernya gue kangen ama kampung nyokap gue di Solo..eeh kagak jadi lewat .

Gue, nyokap gue, bokap gue pagi-pagi siap-siap di kamar hotel tempat bonyok gue nginep, tepatnya di Jalan Kaliurang km 5,5. Eh eh loh ? kok ada gue ? ehem....gue udah diusir dari kost-kostan, pasalnya mbaknya mo pulang n udah kagak ada orang lagi di kos. Setelah check out, gue yang selama ini pengen jalan-jalan bareng bonyok gue, terutama bokap gue yang jarang punya waktu buat jalan-jalan iseng-iseng gak berhadiah berangkat ke first destination:::Monumen Jogja Kembali yang bentuknya kayak tumpeng gak jadi itu, gue herang kenape juga konsepnya kagak nasi gudeg aja ??




Nyampe sono iyeey bener tebakan gue, pengunjung pertama, gue udah berharap ada hadiahnya. poto-poto, kagum-kagum heheee menurut gue cukup bagus sih ada monumen yang isinya semacem museum gitu, ada ruang museum I - IV di lantai satunya yang cukup bikin pusing karena layout ruangnya bener-bener melingkar. Di lantai 2 nya nih yang gue ama bokap gue suka, ada ruang Diorama, jadi di ruangan ini ada semacam dramatisasi tentang masa-masa perjuangan dulu beserta background tempat kejadiannya, tapi yang dramatisasi ini patung di dalem ruangan kaca, ada sok efek-efek cahaya ama suaranya gitu, eh ini bikin gue ama bokap gue cukup terharu ama cerita yang ada di situ.



Dari situ naek tangga lagi deh ke lantai 3, ternyata di lantai 3 tuh tempat kita ngedoain arwah para pahlawan kita hikss....

Dari Monjali lanjut ke candi yang selama ini terlupakan, candi Kalasan, candi Budha yang candinya dulu pernah gue pake buat sketsa candi jaman gue semester 2. Dulu sih kata bokap nyokap gue, nih candi keliatan banget dari jalanan menuju Solo itu, tapi sekarang sayangnya ketutupan ama rumah-rumah di sekitarnya jadinya gak bisaa dikembangin lagi deh, tempat parkirnya aja udah mepet banget buat 2 biji mobil. Tangga naeknya juga udah gak utuh lagi, mesti pinter-pinter majat, eh gue udah manjat tinggi-tinggi karena pengen liat dalemnya gimana, yang gue terima bau pesing sumpahhhh...tadinya sih gue pikir berapa ribu orang sih yang pipis di situ ampe sukses bikin gue mual, eh ternyata kata bapaknya di situ kalo yang pipis tuh kelelawar. Terus kenapa gak dibersihin terus dicariin solusinya yah ? kasih penerangan kek?



Banyak relief-relief yang udah gak kebaca, banyak patung-patung di situ yang udah ilang, banyak pula batu-batu di halaman candi yang berasal dari reruntuhan tuh badan candi hikkss...

Beda banget ama candi yang gue kunjuungin selanjutnya, candi Ratu Boko, ehem nih pengusaha yang ngelola termasuk dalam grup yang ngelola candi Prambanan n candi Borobudur, wow, kebanyang kaan berarti tuh candi kerawat :) iyooy, cuma jalan masuk ke arah tuh candi bener-bener kayak jalan di gunung sempit, lewat kampung-kampung n berkelok-kelok, nyampe di sana langsung masuk ke area parkir hotel, sip daah lumayan kerawat, banyak tangga n taman menuju ke candi nya yang lumayan baru.



Ambil poto ketawa-ketiwi...eeh ada cewek ngeliatin gue, sekali, dua kali...eh kok kayak kenal ? ihiiy sempit yah dunia, ternyata tuh cewek temen gue di arsi , demi menyelamatkan nama baik dia panggil saja si Angel :D

Aah udah ah telerr langung deh capcuss ke Ngawi :D puasa-puasa boo...

Recomended Dramas!!!

Belakangan ini gue jadi lumayan sering ngerasa waktu tuh 24 jam berjalan cepeeeeeet banget, eits bukan karena mo kiamat, gue rasa gue jadi bertambah gak waras pasalnya gue selalu melanjutkan hobi...ehm ato mungkin lebih cocok disebut kebiasaan buruk, nonton Dorama NONSTOP! hihihi mo usil aja siih gue review dorama-dorama yang gue tonton selama liburan ini, lumayan dikit siiih dibandingkan dengan liburan sebelumnya dan lagi gue gak ngikutin anime sama sekali karena dvdnya gue tinggal semua di kost hhhu..

Ada hal yang bikin gue geli, ehm ada beberapa temen gue berjenis kelamin laki-laki jadi sukam dorama, kalo yang satu lagi (mungking loorang kenal) dia jadi nonton dorama karena ngepens ama pemeran ceweknya, naaah yang satu lagi bilang katanya di tersentuh ama ceritanya hoekk, gue muntah di tempat..


ehem...gue sih nonton ini pertama karena ada Taecyeon oppa dari 2PM...akting pertamanya loooh juga ada Moon Geun Young yaah walo gue gak gitu kenal ama dia gak pernah smsan sih, gue lumayan suka aktingnya keren.
Ceritanya tentang seorang cewek Eun Joo (Moon Geun Young) mungkin dia yang disebut Cinderella's step sisternya, gak sekolah tinggal bareng sama nyokapnya, adek angkatnya ama bokap tirinya yang suka mabok ama mukul nyokapnya, dia punya watak yang keras kepala, dingin, dan selalu pengen sendirian. Nyokap ama dia kabur deh dari tuh rumah terus nyokapnya nikah ama bokap-bokap tajir yang punya anak lebih mudaan dikit dari Eun Joo..Hyo Sun uhuuuy cinta segitiga kayak biasanya deh, ada cowok namanya Ki Hoon oppa yang disukain ama si adek, tapi Ki Hoon suka ama Eun Joo, gitu deeh dipenuhi konflik pekerjaan mereka yang nerusin pabrik anggur dari bokap mereka dan cinta yang nantinya jadi segiempat ditambah Taecyeon yang ternyata versi gedenya adek angkatnya EunJoo sumpah Taecyeon oppa jadi cowok baeeek banget dengan hati tulus..Jung Woo dengan dialek yang lucu hihi. And funfact of this drama nih dorama jadi favorit dengan rating sempet jadi nomor 1 di Korsel beberapa minggu heheh :D It's really recommended dorama!!!

Cast


Satu lagiii gue suka lagu-lagunya:::
1. Yesung - It has to be you (Cinderella's Sister OST) [www.Slow-RNB.in ♥ K-Pop Exclusive]
2. (fx) Luna & Krystal - calling out [Cinderella's Sister OST]
3. Joo - Turn around (Cinderella's Sister OST) [www.Slow-RNB.in ♥ K-Pop Exclusive]
4. Alex. - Tree (Cinderella's Sister OST.)


pertamanya gue tau nih dorama dari temen gue katanya sih bagus banget, tapi kalo menurut gue sih masih lebih bagus nyang di atas...Ceritanya tentang sekolahan yang mo dibubarin gitu lantaran muridnya gak pinter ehm terus seoarang pengacara negbuat kelas khusus berisi 5 orang yang bakalan dipersiapin buat masuk ke universitas Chun Ha keren apalagi buat anak-anak SMA yang lagi labil-labilnya mo UAN n SNMPTN heheee


beberapa ost nya yang menurut gue lumayan:::
1. At least once - TMAX
2. Because I'm Weary - Ernest (LOVE IT)
3. You Don't Know - FT Triple
kalo yang laennya sih dinyanyiin F(X) ama T-Ara, gue gak gitu suka sih tapi hihihi
http://www.mp3raid.com/music/ost_god_of_study.html
http://www2.mp3raid.com/search/download-mp3/9563697/ost_god_of_study.html
kalo rajin donlot ajaa..

kalo dibilang recomended dorama sih menurut gue yang bagus n baru yah duak itu n filing gue bakalan tayang di tipi sini..


ehm saya blon selese nonton siih :B


yang nii masih fresh bangeet dari KBS baru selese May 2010 hihihi tapi gue blon selese nonton, intinya ada seorang cewek yaah tajir, manja, suka ngebohongin bokapnya yang galak dengan kerja sama sama nyokapnya. Tapi nih cewek luar biasa cerdasnyaa.

4. Bad Guy / Napeun Nanja

Cast

5. My Girl is A Nine-tail Fox



*IT'S AN UPCOMING DRAMA* !!!

6. Personal Taste / Personal Preference
ehem...sekedar tambahan, nih dorama yg maen Lee Min Ho tapi cakep di sini hhe gak kayak d BBF norak abiss.... ceritanya romantis mampus, tentang seorang arsitek dengan segala  kerjaannya n seorang furniture designer ehemmmm :3 yang cowok disangkain maho maka dipertanyakan preferencenyaaaa ahaaa


Cast


Source::: www.wiki.d-addicts.com (DramaWiki)